Setiap kali aku memasuki kamar kostku tidak ada yang berubah, tapi kali ini aku merasa ada yang lain. Pikiran itu terlintas dibenakku. Aku mencari-cari apa yang aneh, kuteliti setiap sudut, tidak ada yang berubah. Barang-barang elektonik masih lengkap semua, tersusun ditempat semula. Bahkan gambar sebuah partai yang kuharapkan, bukan gambarnya lho, agar membawa bangsaku ke masa depan yang lebih baik dari sekarang, tak lolos dari pengamatan mataku. Tapi bukan gambar itu yang membuat kamarku berubah. Tak juga ketemu, akupun terlelap bermimpi tentang kampanye yang membuat aku tersenyum. Partai pilihanku menang telak pemilu kali ini. Semoga saja begitu, membawa bangsaku, yang terseok-seok perjalanannya akhir-akhir ini, ke jalan kemajuan dan mampu bersaing dengan negara-negara lain.
Hari berganti, saat kubangun dipagi hari aku baru menyadari hal yang membuat suasana kamarku berubah. Adalah sebuah sarang laba-laba disela-sela gantungan lampu, Alamaaak…..!!! Cuma seekor laba-laba yang ternyata mampu merubah suasana kamar kostku. Kuperhatikan laba-laba itu, dia hanya terdiam dipojok sarangnya. Wuingggg….wuinggg….wuinggg…., lalat terbang didepan hidungku. Amboi…, Uni Ros, kamar sebelah sedang menggoreng ikan asin. Aromanya membuat perutku yang lupa kuisi kemarin malam semakin membunyikan suara keroncongannya. Wah lezatnya kalau disantap dengan nasi putih hangat yang masih mengepul asapnya, khayalku. Aroma itu tidak saja membuat aku berkhayal, lalat itupun mungkin sama dengan apa yang kualami, lapar. Pikiranku melayang, apakah rakyat negeri ini seperti lalat yang kelaparan itu??? Berbondong-bondong ikut menghadiri kampanye pemilu, setelah mencium bau aroma duit, kaos atau iming-iming partai yang kelebihan duit???
Aku tersentak kaget, lalat itu terjerat…!!!! Brrrrrr……brrrrr…brrrr..., dia berusaha melepaskan dirinya, tapi jeratannya terlalu kuat untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Laba-laba itu datang menghampiri. Tanpa basa-basi, lalat itu dijerat lagi dengan gulungan-gulungan ditubuhnya sehingga tak dapat berkutik sedikitpun. Masya Allah, kebesaran Allah yang menciptakan dunia seisinya. Makhluk yang tak bisa berpikir atau berdebat membahas pemilu atau bermain komputer apalagi membaca koran ini, mampu menciptakan jeratan maut yang membuat makluk lain yang ceroboh menjadi santapannya. Aku merinding, membayangkan rakyat bangsa ini, nasibnya seperti lalat dikamar kostku. Menjadi korban jeratan-jeratan yang diciptakan “Laba-Laba” gila harta dan kekuasaan diarena kampanye pemilu kali ini. Semoga rakyat bangsa ini mampu berpikir dengan baik, sehingga lolos dari jeratan-jeratan maut laba-laba politik. Tidak seperti lalat-lalat yang ceroboh itu. Amiin, ya Rabbal alamiin.
“Tok…tok…tokk”, pintu kamar kostku diketok. “Liii, mau sarapan nggak?”, uni Ros berteriak memanggil namaku dari luar, membuyarkan lamunanku. Tak kuasa menahan lapar, aku menyahut, “Ya….sebentar!” Akhirnya apa yang Aku khayalkan tadi terwujud, sekarang yang jadi laba-laba Aku apa Uni Ros??? Aku tersenyum. Ah, yang penting isi dulu perut ini dengan nasi putih mengepul lauknya ikan asin ditemani wanita cantik… Ondee Mak Cik!!!
Hari berganti, saat kubangun dipagi hari aku baru menyadari hal yang membuat suasana kamarku berubah. Adalah sebuah sarang laba-laba disela-sela gantungan lampu, Alamaaak…..!!! Cuma seekor laba-laba yang ternyata mampu merubah suasana kamar kostku. Kuperhatikan laba-laba itu, dia hanya terdiam dipojok sarangnya. Wuingggg….wuinggg….wuinggg…., lalat terbang didepan hidungku. Amboi…, Uni Ros, kamar sebelah sedang menggoreng ikan asin. Aromanya membuat perutku yang lupa kuisi kemarin malam semakin membunyikan suara keroncongannya. Wah lezatnya kalau disantap dengan nasi putih hangat yang masih mengepul asapnya, khayalku. Aroma itu tidak saja membuat aku berkhayal, lalat itupun mungkin sama dengan apa yang kualami, lapar. Pikiranku melayang, apakah rakyat negeri ini seperti lalat yang kelaparan itu??? Berbondong-bondong ikut menghadiri kampanye pemilu, setelah mencium bau aroma duit, kaos atau iming-iming partai yang kelebihan duit???
Aku tersentak kaget, lalat itu terjerat…!!!! Brrrrrr……brrrrr…brrrr..., dia berusaha melepaskan dirinya, tapi jeratannya terlalu kuat untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Laba-laba itu datang menghampiri. Tanpa basa-basi, lalat itu dijerat lagi dengan gulungan-gulungan ditubuhnya sehingga tak dapat berkutik sedikitpun. Masya Allah, kebesaran Allah yang menciptakan dunia seisinya. Makhluk yang tak bisa berpikir atau berdebat membahas pemilu atau bermain komputer apalagi membaca koran ini, mampu menciptakan jeratan maut yang membuat makluk lain yang ceroboh menjadi santapannya. Aku merinding, membayangkan rakyat bangsa ini, nasibnya seperti lalat dikamar kostku. Menjadi korban jeratan-jeratan yang diciptakan “Laba-Laba” gila harta dan kekuasaan diarena kampanye pemilu kali ini. Semoga rakyat bangsa ini mampu berpikir dengan baik, sehingga lolos dari jeratan-jeratan maut laba-laba politik. Tidak seperti lalat-lalat yang ceroboh itu. Amiin, ya Rabbal alamiin.
“Tok…tok…tokk”, pintu kamar kostku diketok. “Liii, mau sarapan nggak?”, uni Ros berteriak memanggil namaku dari luar, membuyarkan lamunanku. Tak kuasa menahan lapar, aku menyahut, “Ya….sebentar!” Akhirnya apa yang Aku khayalkan tadi terwujud, sekarang yang jadi laba-laba Aku apa Uni Ros??? Aku tersenyum. Ah, yang penting isi dulu perut ini dengan nasi putih mengepul lauknya ikan asin ditemani wanita cantik… Ondee Mak Cik!!!
No comments:
Post a Comment